Rabu, 16 Mei 2012

Tiga - Dua Blok Menuju Kamu

             Langit kehilangan warnanya, dan matahari tampak abu-abu. Masih ada dua jajaran rumah membentuk blok panjang yang harus kulewati dengan berlari untuk dapat menemuimu. Tak kuhiraukan peluh yang menetesi leher hingga dadaku. Suara hela nafas pun tidak lagi serasi dengan pikiran atau ratusan langkah yang ketempuh.
“Aku tak bisa membayangkan nanti, saat kita berjauhan. Apa bisa mengambil risiko itu.”
“Mungkin sulit, dan bila kita berhasil, maka itu hadiah terbesar bagi kita.” Jawabmu.
Aku terjatuh karena kedua kakiku saling bersinggungan. Sakit di siku bertambah perih karena terkena asinnya peluh. Namun, aku hanya menatap ke depan. Sinar matahari terik yang tadi kubilang abu-abu membuat pandangan di depan tampak berbayang. Sedikit kuseka peluh di pipi dengan tanganku, kemudian berlari lagi.
“Aku sekeluarga akan berangkat lusa. Semua persiapan telah selesai. Apa kau akan menemuiku?”
“Entah apa aku kuat.” Jawabku.
Tuhan, aku anggap kelelahan ini tidak akan seberapa bila aku dapat melihat lagi senyum dengan dua lesung pipi di wajahnya, walau untuk terakhir kali, sampai kami bertemu lagi. Satu blok lagi akan terlewati. Matahari tak sedikitpun memberikan kemudahan atas jalanku. Sambil sedikit mengerang aku melihat jam di tangan kiriku, dua puluh menit lagi.
“Sesampai di sana aku akan segera mengabarimu. Aku paham bila kau tidak ingin datang saat kepergianku.”
“Apakah waktu akan berjalan sangat lambat saat kau tak ada?” Tanyaku.
“Ya, seperti waktu tanpa kau di sisiku.”
Dan, dengan sisa nafas yang masih ada, aku berhenti di depan rumahmu. Kau tampak memasukkan boneka panda besar ke dalam mobil. Pemberianku sebulan lalu. Kau menyadari kehadiranku di balik hiruk-pikuk persiapan kepindahanmu dan keluarga ke kota lain. Kau tersenyum dan memberi tanda agar aku mendekat.
“Aku datang. Semua akan tetap berjalan sesuai rencana?” Tanyaku masih tak percaya.
“Ya, aku tahu kau akan datang. Tentu saja semua akan tetap berjalan sesuai rencana. Sebentar lagi kami berangkat.”
Kemudian, kau memelukku tak peduli dengan sisa peluh yang masih ada.
“Aku akan merindukanmu, sangat. Selamat hari jadi bulan ketujuh untuk kita.”
Lalu aku hanya bisa membalas dekapanmu dengan lebih erat sambil berdoa agar air mata ini tidak jatuh.
  
Evan and Jaron – Distance

Tidak ada komentar:

Posting Komentar