Kamis, 02 Februari 2012

Tempat Hidupku Berawal

In project of  "My Hometown Buku 1: Keluarga Anak Layangan" by www.nulisbuku.com

Hari ini, hari ke 25 di bulan Juni tahun 2011. Di umurku yang menjelang 23 tahun pada bulan Desember esok, merupakan tahun kelima aku meninggalkan tanah kelahiranku, oh lebih tepatnya hampir lima tahun sejak aku memutuskan kuliah di Jakarta bulan Agustus tahun 2006. Yah, kutinggalkan tanah kelahiranku di daerah Talang Padang, Lampung Selatan. Sebuah wilayah kecil yang menjadi tempatku dibesarkan dengan berbagai momentum penting dan berkesan.
Lampung sebenarnya menjadi daerah tujuan tranmigrasi yang cukup diminati oleh penduduk Indonesia, terutama oleh pendduduk di Provinsi Jawa. Mungkin karena Lampung terkenal kaya akan sumber daya alam, seperti hasil perkebunan, pertanian, dan juga perikanan karena sebagian besar wilayah Lampung bahkan belum terjamah atau masih berbentuk lahan liar. Selain itu, banyak terdapat kawasan perairan di  sana. Namun, hal tersebut tidak membuat tempat itu bersuhu terlalu panas. Di daerahku sendiri, Talang Padang, bersuhu cukup dingin, sehingga membuatku bisa bergulung dalam selimut tebal pada pukul 10 siang. Suatu hal yang pasti tidak akan bisa kulakukan saat di Jakarta, karena pukul 6 pagi pun terkadang sudah terasa gerah. Menjadi daerah transmigrasi membuat Lampung memiliki banyak kekayaan etnis, yaitu orang-orang dari bermacam suku yang membuat kelompok di desa-desa tertentu, bahkan nama desa-desa tersebut dapat mencirikan berasal dari mana suku yang mendiaminya. Misal, di Lampung ada desa bernama Sinar Banten yang sebagian besar penduduknya bersuku Banten, desa Sinar Semendo yang penduduknya bersuku Semendo (Semendo adalah suku yang bermigrasi dari daerah Sumatera Selatan) atau desa bernama Wonoharjo yang dari namanya dapat ditebak bahwa sebagian besar warganya bersuku Jawa.
Begitulah, sekilas cerita tentang tanah kelahiranku. Ayah ibuku sendiri bukanlah orang Lampung asli. Ayah berasal dari Banten, beliau datang ke Lampung saat ditugaskan sebagai  Pegawai Negeri Sipil yang saat itu bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), sedangkan ibuku berasal dari Sumatera Selatan dan pindah ke Lampung karena sejak kecil keluarga ibu memang tinggal di sana, lagi pula ibu juga berprofesi sebagai kepala sekolah sebuah Sekolah Dasar di daerah Talang Padang, sehingga membuat dia terus tinggal di sana, sampai akhir hayatnya.
Sejak lahir hingga Sekolah Menengah Atas, aku tinggal di Lampung. Saat aku duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama tempat aku dan keempat kakakku yang lain bersekolah, semester akhir menjelang kenaikan ke kelas dua, ibuku pergi meninggalkanku untuk selamanya karena penyakit Leukimia yang dideritanya. Kedekatanku dengan ibu dan kesegananku terhadap ayahku yang sangat disiplin, bahkan termasuk kolot dalam mendidik anaknya, membuat aku berkeinginan pindah sekolah ke daerah Serang, Banten, ke tempat kakak tertuaku tinggal dengan keluarga kecilnya. Keinginan ini sebenarnya sudah muncul sejak lama, saat ibuku masih ada. Aku tertarik untuk sekolah dan tinggal di Serang karena kupikir di sana lebih maju dan memiliki lebih banyak fasilitas dibanding kampungku. Namun, sebelumnya ayah ibuku tidak pernah mengizinkanku pergi ke sana, mungkin karena saat itu aku masih terlalu kecil. Setelah kepergian ibuku, entah mengapa ayah memperbolehkan aku tinggal di Serang. Mungkin karena pengaruh kakakku juga yang membujuknya. Akhirnya,aku menghabiskan masa  Sekolah Menengah Pertama di sebuah sekolah di sana dan tinggal bersama kakakku selama kurang lebih dua tahun lamanya. Ya, aku memang merasakan apa yang ingin kurasakan. Pergi sekolah dengan angkutan umum bersama gerombolan teman-temang sekolahku, bermain ke mall terdekat saat pulang sekolah, berolahraga ke stadion-stadion olahraga bagus yang ada di kota tersebut, dan fasilitas lainnya yang seharusnya membuatku betah, tetapi ternyata tidak. Ketidakbetahanku bukan karena keadaan kota yang tidak mendukung, tetapi hanya karena aku merindukan tanah kelahiran dan keluargaku di sana, juga teman-teman lamaku sejak kecil. Hal itu yang membuatku memutuskan kembali ke Lampung untuk melanjutkan pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Atas.
Kembali ke tanah kelahiran sejak dua tahun kutinggalkan memunculkan begitu banyak rasa dalam diriku. Aku memang masih merasakan nikmatnya tinggal di kota berkembang seperti Serang, namun ternyata aku menyukai tempat tinggalku sejak kecil. Aku tahu di rumah sudah tidak ada sosok ibu yang menemani, hanya tersisa banyak kenangan dalam rumah dan kamarnya yang membuatku selalu ingat padanya. Toh, aku masih memiliki ayah yang semakin terlihat menyayangiku sejak kepergian ibu. Ayah tidak pernah menikah lagi karena lebih menyayangi anak-anaknya dibanding dirinya sendiri. Aku pun masih memiliki dua kakak lelaki yang sudah besar dan selalu menjadi teman bercerita atau justru menjadi partner in crime. Inilah tempatku seharusnya, tempat aku terjatuh saat berlarian bersama teman-teman sekolah hingga membuat ibu harus membawaku ke dokter karena luka yang tercipta cukup parah, tempat di mana aku menangis karena bertengkar dengan kakak lelakiku hanya karena berebut makanan, tempat aku pertama kali mengagumi sosok lelaki temanku saat duduk di bangku Sekolah Dasar, tempat aku dimarahi ayah karena pulang sekolah terlampu telat, tempat aku menemani ibu berbelanja ke pasar tradisional dan pulang dengan menaiki becak, tempat aku melihat sungai kecoklatan yang mengalir tepat di belakang rumahku, tempat di mana aku pulang sekolah dengan berjalan kaki tanpa harus menaiki kendaraan umum atau pergi bermain ke mall, termasuk tempat di mana akhirnya aku menemukan sosok yang aku sukai selama empat tahun terakhir.
Selepas lulus SMA, aku memutuskan untuk berkuliah ke Jakarta. Melalui sebuah tes bertaraf nasional, akhirnya aku dapat lolos menjadi mahasiswi sebuah universitas negeri di Jakarta. Sebelumnya aku juga mendaftar untuk masuk di universitas di daerah Lampung, namun aku justru mendapat jalan untuk berkuliah di ibu kota. Ayah, aku harus meninggalkannya. Ayah yang sejak kepergian ibu telah berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Menjadi sosok ayah sekaligus ibu. Dia memintaku untuk pulang sesering mungkin agar dapat melihat keadaanku. Ya ayah, aku pun akan selalu merindukan wangi minyak gosok yang selalu tercium dari tanganmu saat kucium setiap habis shalat atau sebelum pergi sekolah. Aku pun akan selalu merindukan tanah ini. Udaranya, masyarakatnya, suara air sungai yang mengalir di belakang rumah, langit malamnya yang selalu dipenuhi bintang, bahkan bunyi pengeras suara masjid di dekat rumahku. Apapun yang tersisa dari desa ini akan membuatku pulang kampung kapan pun aku bisa.
Momen di mana aku pasti pulang adalah saat mudik lebaran. Saat yang selalu aku nantikan. Keluarga besarku akan berkumpul di rumah induk semang kami. Rumah yang sudah cukup tua, namun sarat akan banyak kenangan. Kenangan saat aku dibesarkan di desa ini. Desa yang hampir semua warganya saling menegur saat bertemu. Pekerjaan ayah dan ibu sebagai PNS dan guru membuat mereka banyak dikenal orang, sehingga ke manapun kami berjalan, banyak orang yang sekedar menegur atau menyapa. Saat lebaran tiba, aku dan keluarga besar selalu menjalankan ibadah sholat ied di sebuah lapangan bola yang cukup dikenal warga di sana. Dapat kulihat, semua orang dengan suku berbeda berkumpul di sana saat sholat ied. Semakin saja aku mencintai tempat ini. Setelah sholat kami akan saling mengunjungi rumah kerabat yang menyediakan berbagai macam makanan tradisonal hingga modern. Ini merupakan momen yang tidak pernah terlupakan dari desaku. Begitupun dengan sifat kedaerah yang masih cukup kuat. Orang-orang di sana masih menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, terkadang seseorang dari sebuah suku dapat berbicara dengan bahasa suku lain dengan cukup lancar, semua itu karena mereka tinggal dan bergaul dengan siapa saja tanpa memandang perbedaan suku atau mungkin agama. Ayahku mengenal banyak orang yang menjadi jemaah di sebuah masjid tempat ayahku biasa beribadah, namun ayah juga bersahabat dengan seorang pemilik toko hasil bumi yang bersuku cina. Di sekolah, teman-temanku adalah orang dengan suku beragam yang masih sering menggunakan bahasa ibu mereka saat bercakap. Hal tersebut membuatku mengenal lebih dari satu bahasa daerah walau aku tidak dapat menerapkannya secara lancar dalam pergaulan sehari-hari. Hal ini juga menjadi tanda khusus dari tanah kelahiranku. Ya, suku yang sangat beragam.
Sejarah yang membentuk kehidupan seseorang di masa depan. Pernyataan itu juga berlaku bagiku. Semua yang kurasakan dan menjadikanku seperti saat ini juga dipengaruhi oleh masa laluku, terutama masa-masa saat aku tinggal di tanah kelahiranku. Walau tak dapat dipungkiri, banyak juga hal di kota ini yang memengaruhiku. Tentu banyak sekali perbedaan antara kehidupan di desaku dulu dengan tempatku tinggal saat ini. Di desaku, orang-orangnya memiliki rasa saling menghormati yang lebih besar daripada masyarakat kota. Individulisme di kota tentu lebih besar karena seriap orang merasa perlu memburu apa yang mereka butuhkan. Mungkin semacam hedonisme. Di desaku, bahkan saat ada pengumuman berita duka cita di masjid, orang-orang akan menghantikan aktivitas atau pergi ke luar rumah hanya untuk mendengar berita itu secara lebih jelas. Apa di kota akan ditemukan seperti hal seperti itu? Di desa, orang akan meminta izin saat lewat di hadapanmu atau meminta maaf secara sungguh-sungguh saat dia menginjak kakimu, sedangkan di kota, orang-orang yang mengejar waktu tidak akan memperdulikan sekitarnya seperti itu. Di desa, setiap malam aku masih bisa menikmati pemandangan alam raya seperti bintang atau bulan, sedangkan di kota ini, semua terhalang oleh light pollution, sehingga hanya cahaya lampu kota yang dapat memenuhi langit.
Aku yakin aku akan selalu pulang selama aku bisa. Tidak hanya saat mudik lebaran tiba. Teman-teman sekolahku saat ini sudah terpencar di berbagai tempat untuk melanjutkan kuliah atau bekerja. Namun, kami selalu menyempatkan diri untuk berkumpul saat liburan tiba. Mereka teman-teman dekatku saat Sekolah Menengah Atas. Teman-temanku dengan suku yang beragam. Mereka juga yang selalu jadi alasan kerinduanku akan kepulanganku ke kampung halaman.
Kepulanganku pada saat tahun pertamaku di bangku kuliah, tepatnya pada tahun 2006 menjelang kenaikan ke semester kedua, menjadi tahun terakhirku dengan ayah. Ayah meninggalkanku menyusul ibu. Sempat ada kata-kata terlahir dari bibirnya yang selalu dialiri kalimat-kalimat doa. Ayah yang sangat religius berkata di saat aku menyuapinya dalam sakitnya yang cukup parah “Semoga kebaikanmu nak, membawa kamu ke surga.” Ayah, aku harap pun begitu, suatu saat kita dapat bertemu di sana, juga dengan ibu. Sungguh terasa berbeda keadaan yang terasa setelah kepergiaan ayah menyusul ibu. Rumah induk semangku di desa, kini diurus oleh salah satu kakak lelakiku. Namun, aku tidak pernah jera untuk pulang. Karena, desa itu telah memberi banyak sejarah dalam hidupku. Aku merindukan desa itu selalu. Tempat di mana aku dibesarkan oleh empat tangan manusia yang saat ini makamnya berdampingan. Karena itu, aku akan selalu pulang ke desaku, menengok rumah abadi ayah dan ibu walau hanya saat lebaran tiba.
Aku sudah terbiasa pulang kampung seorang diri sejak duduk di tahun terakhir Sekolah Menengah Atas. Lagi pula, Lampung tidak terlalu jauh dari Jakarta, 10 jam perjalanan sudah sampai. Bahkan, bisa kurang dari itu bila perjalanan lancar. Aku akan melewati perjalanan darat sekaligus menyebrang laut Selat Sunda. Kenangan yang selalu menyenangkan untuk diingat adalah saat melewati perjalanan laut ini. Juga saat melewati lahan liar yang belum disentuh tangan manusia atau jurang-jurang dangkal yang ditumbuhi berbagai pepohonan. Lahan yang terlihat sangat subur hingga kepulanganku baru-baru ini ke sana. Pemandangan hijau akan digantikan oleh kota yang semakin berkembang saat aku memasuki daerah Bandar Lampung sebagai ibu kota provinsi. Maskot provinsi, patung gajah yang sedang bermain sepak bola menghiasi air mancur pusat kota. Bukankah Lampung terkenal dengan sekolah gajah Way Kambas yang sampai saat ini belum pernah aku kunjungi sama sekali. Hamparan kain tapis yang juga menjadi ciri khas dari Lampung menghiasi berbagai sudut jalan. Kain tapis yang selalu dipakai dalam berbagai acara adat atau pernikahan, terutama oleh suku asli Lampung sendiri. Kain berhias benang emas yang sangat indah. Selain itu, akan tampak deretan toko penjual oleh-oleh khas Lampung, seperti keripik pisang beraneka rasa dan kopi khas Lampung yang terkenal akan aroma dan rasanya yang khas. Semua hal itu, akan kutemui dalam perjalanan pulang, pulang ke tanah kelahiranku.
Selalu ada perasaan yang sama dan pengalaman baru setiap kepulanganku. Perasaan yang membuatku selalu kembali ke masa laluku di tempatku lahir. Rasa rindu akan segala hal yang ingin kutemui kembali. Wangi udaranya, cuacanya, hangatnya selimut tebalku di kamar, bunyi aliran sungai di belakang rumah, langit siangnya yang sangat biru, suara gerbang kecil rumahku, suara anak-anak sekolah yang pulang bergerombol, hingga suara penjual ikan yang melewati depan rumah. Sebenarnya, aku merindukan wangi minyak angin di tangan ayah dan wangi baju ibuku, namun itu harus bisa aku abaikan. Karena wangi dapat terhapus oleh waktu, hanya kenangan yang dapat abadi dalam otakku.
Bulan ini sudah dua kali aku pulang. Dua-duanya dalam waktu yang singkat untuk menyelesaikan suatu urusan bersama keluargaku di sana. Kepulanganku bahkan mencuri waktu kerjaku. Kepulanganku bahkan tidak membuatku menikmati desaku secara sungguh-sungguh karena singkatnya waktu yang kumiliki. Ternyata, ada sedikit perubahan di desaku. Bukan pada air sungainya yang masih kecoklatan, bukan juga pada kemeriahan pasar tradisionalnya. Hanya saja, aku merasakan bahwa desaku ini sekarang sudah agak terasa panas. Suhu udara yang mulai berubah, entah kenapa. Aku belum melihat perubahan pada lahan liarnya. Ah, mungkin aku tidak melihat perubahannya. Mungkin saat ini masyarakat di desaku sudah mulai mengembangkan kehidupan mereka dengan cara mengubah lingkungan. Semoga tempat ini kelak tidak menjadi Jakarta berikutnya. Yah, maksudku dalam perubahan alamnya, bukan pada hal kemajuannya.
Sebesar apa pun keinginanku untuk pergi mencoba tempat baru, jauh dari desaku, tidak tertutup kemungkinan bahwa suatu hari hidup baruku akan dimulai kembali dari sana. Mungkin suatu saat aku akan menemukan pekerjaan di sana atau menemukan masa depanku di sana. Menemukan calon ayah dari anak-anakku kelak. Mungkin dia orang baru atau bahkan seseorang yang pernah kukenal dulu. Mungkin aku tidak akan seperti kedua kakak perempuanku yang tinggal jauh dari tempat kelahiran kami, namun justru mengikuti jejak dua orang kakak lelakiku yang mendapat jodoh di sana, lalu membentuk pasukan kecil keluarga mereka. Ya, saat ini aku akui belum ada keinginanku untuk pulang dan menetap di sana, aku ingin melanjutkan hidupku di kota ini dulu. Mencari apa yang belum aku dapatkan. Merasakan apa yang belum pernah aku alami. Mendamba apa yang selalu tampak menarik bagiku. Namun, aku yakin aku akan selalu kembali ke sana, ke tempat aku lahir dan dibesarkan oleh empat tangan mulia yang kini makamnya berdampingan. Aku harus memastikan masa depan itu, entah itu akan tercipta di sana dan akan kutemukan bagian-bagian yang tercecer dari masa depan itu, yang kelak akan saling melengkapi. Memiliki tempat untuk diingat adalah hal yang sangat menyenangkan. Oleh karena itu, beruntunglah aku, seseorang yang memiliki kampung halaman. 

1 komentar:

  1. lagi iseng iseng eh ketemu blog ini
    ceritanya keren

    aku juga dari talpa, khususnya Jalanbaru :)

    BalasHapus