Kamis, 02 Februari 2012

Father, Like No Other


Based on Dancing With My Father by Luther Vandross
In Project of "11 Days Project (hari ketujuh, buku kedua)" by www.nulisbuku.com

Tidak akan pernah ada narasi yang tidak menyisakan keharuan bila harus menceritakan ayah. Seorang sosok yang keras perangainya, namun rasa sayangnya berlimpah ruah. Seumur hidup Ayah, aku selalu takut padanya, selalu segan, dan terkadang antipati. Bukan aku membenci Ayah, hanya saja sifatnya seperti utara dan selatan bila dibandingkan dengan Mama. Mama, dengan sifatnya, aku berani saja membangkang atau merengek. Ayah, sedikit saja aku melanggar jam pulang sekolah, maka keras perangainya akan terlihat. Ayah tidak pernah memukul, tidak pernah menyakiti fisik. Hanya saja, di dunia ini, ada beberapa sosok yang hanya dengan kata-katanya bisa membuat aku tertunduk, menangis, lalu antipati.

Ayah, sosok keras perangai yang setiap adzan subuh bahkan belum berkumandang, sudah membuka jendela rumah dan memasak air untuk mandinya sendiri. Ayah, yang sampai saat ini tidak akan bisa aku kenang sosok disfungsionalnya karena bagiku, dia selalu fungsional, taat pada kewajibannya sebagai sosok yang seharusnya. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila aku berkata kalau tidak akan ada ingatan tentang Ayah dalam sosok yang lucu. Mungkin karena waktu kami terlalu singkat dan aku terlalu segan padanya. Sayang karena takut, bukan sayang karena sebenarnya sayang seperti rasa sayang aku ke Mama.

Tapi, di balik semua kenangan tentang sosok keras perangai itu, tidak tahu mengapa aku selalu mengaguminya. Selalu ada rasa haru  yang harusnya berubah jadi bakti seandainya Ayah bisa merasakannya, saat ini. Namun, semua itu mungkin berbeda kalau Ayah masih ada dalam dunia konkret. Bukankah semua akan terasa indah saat sudah tidak ada. Di balik semua sifat Ayah yang cenderung aku takuti atau tepatnya segani, tetap selalu ada sifat yang ingin aku temukan lagi dalam sosok lain, mungkin kakak lelaki aku atau ayah dari anak-anak aku nanti. Ayah si keras perangai, selalu membuka jendela setiap pagi, bahkan sebelum adzan subuh berkumandang. Ingat, tidak boleh ada sesak untuk sesuatu yang sudah tidak ada.

Mama has to read it! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar