Senin, 02 April 2012

Metro

Aku menunggu kedatangan metro yang akan membawaku pergi. Di sepanjang jalur, tampak banyak orang pun melakukan hal yang sama, menunggu. Kebanyakan mereka bergerombolan atau berpasang-pasangan. Ada juga para backpacker yang tertidur di lantai stasiun London Underground System ini. Berbaris-baris dengan kantung tidur yang menjadi alas dan tas-tas besar yang menumpuk di sisi kanan-kiri mereka. Tampak nyenyak kelelahan dan tak memperdulikan keramaian.

Tak lama, metro yang kutunggu datang. Kulangkahkan kakiku masuk melalui salah satu pintu dan duduk di tempat kosong di depan seorang lelaki tua. Lelaki itu mengangguk-angguk karena kantuk, sementara tangannya menggenggam sebuah surat kabar yang menampilkan halaman utama tentang London Summer Festival di Hampton Court. Sebuah festival besar yang sempat kudatangi sekita dua bulan lalu, bersamanya saat musim panas, sekarang semua orang sudah mengenakan kembali mantel-mantel wol mereka untuk menghalau udara lembab dan dingin. Karena sudah musim gugur di sini. Sementara, metro yang kutumpangin terus berjalan menembus sinar-sinar lampu yang berpenjar, mengantarkanku ke bandara Heathrow. Tak tahu kapan akan kutemui lagi semua hal di sini.

Hawa dingin, ras kaukasian, metro yang sunyi, dedaunan yang mulai berjatuhan ke tanah, wangi hamburger dari pedagang-pedagang sepanjang jalan, dan orang-orang yang berjalan cepat. Semuanya kususun menjadi memori tersendiri dalam otakku sebelum kutinggalkan tempat ini. Kini, aku berada di terminal V bandara. Aku melihat sebuah cafetaria di salah satu sudut. Tak sakit namun keraba pelipisku. Mengingat sebuah kenangan yang masih tersimpan erat. Di sanalah aku menemukan bagian takdirku. Urutan-urutan mulai dari; aku menemukan visa tertinggal, melihat seorang gadis dengan dua orang polisi yang sedang adu mulut, pulang ke Indonesia, kembali ke London dan menemukan suatu kebetulan bahwa gadis itu tinggal serumah denganku, London Summer Festival, surat dari Middlesbrough, pesan chat setiap malam, dan sebuah e-mail balasan dari Indonesia, semua menambah berat langkahku. Namun, seperti janjiku pada Nadia bahwa aku akan mengambil langkah, maka setengah jam kemudian aku telah berada di atas pesawat yang akan membawaku ke suatu tempat. Kesenderkan kepala ke atas kursiku, memejamkan mata, dan berusaha menenangkan diri sendiri bahwa semua akan berjalan sesuai rencana.

Sudah mulai gelap ketika kutiba. Memandang ke sekeliling dan aku tau bahwa keadaan di sini tak jauh berbeda dengan London. Merasa lelah, aku duduk sambil meluruskan kaki di sebuah kursi besi. Kuraih ponsel menghubungi seseorang.

Aku sudah sampai tujuan.

Oh, syukurlah. Aku senang kan dapat mengambil keputusanmu dengan berani. Sekarang, temui dia.

Ya, terima kasih, Nisya.

Kuletakkan kembali ponselku ke dalam saku kananku, dan meraih sebuah benda bulat di saku kiriku. Kubuka tutupnya dan berpendarlah cahaya tipis dari benda berwarna emas. Aku tersenyum untuk menghilangkan gemetar. Baiklah. Mari selesaikan apa yang harus diselesaikan, apa pun itu hasilnya.

Berjalan keluar bandara, kuhentikan taksi, menyebutkan sebuah alamat, dan meninggalkan tempat itu. Sebuah papan besar berwarna perak seakan menyambutku. Middlesbrough Airport.

Re: .....
Dari: Eda
Kepada:  Nisya
Sent: Monday, August 18, 07.02 P.M

Tentu saja bukan aku bila se-ringan kau (Just kidding). Menurutmu, bagaimana dengan pergi ke Middlesbrough dan menemui Nadia. Mungkin dengan membawa sebuah cincin, lalu mengajaknya pulang ke Indonesia. Kau pun ingin melihatnya kan? Tentu saja, bila nasib mengizinkanku, maka aku tak akan gagal.


Re: ......
Dari: Nisya
Kepada: Eda
Sent: Monday, August 18, 04.13 P.M

Apa maksudmu dengan pulang ke Indonesia? Bukan seperti Eda yang kukenal. Ayolah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar