Selasa, 03 April 2012

Lebih Indah

Bila aku berkata bahwa apakah aku akan gagal, maka salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan mencoba.
Bila aku berkata apakah aku boleh kembali dan menemuimu, maka itu dengan membawanya dan mengenalkannya padamu.
Dan, mungkin nasib akan membawaku untuk memenuhi janjiku padamu bahwa kita akan kembali bertemu saat kita sudah menemukan kebahagiaan kita masing-masing.

Sepertinya, tiga pernyataan itu terus-menerus kuingat dalam kepalaku untuk meyakinkan bahwa hari ini aku telah menang. Tiga kalimat itu seolah lebih penting untuk kuikrarkan dibanding janji-janji terlontar yang bergaung di pagi itu, janjiku pada Nadia di salah satu hari bersejarah dalam hidup kami. Mataku memandang ke sekelilingku. Pernahkah aku membayangkan saat ini akan datang? Pernah, ya mungkin pernah. Tapi dulu, saat aku belum menemukan Nadia. Bayangan bahwa aku akan bersama dengan seseorang yang pada akhirnya tak memilihku, kecuali untuk menjadi sahabat sejatinya. Dia yang telah mengajarkan bahwa masih ada yang harus kucari, selain dirinya. Dia yang sekarang memberiku selamat. Dia yang datang bersama lelakinya dan gadis kecilnya yang sudah pandai berbicara. Nisya memelukku dan Nadia bergantian. Tampak setetes air mata di ujung matanya. Air mata kebanggaan karena aku telah memenuhi janji kami, untuk bahagia. Sementara Nadia terlihat sangat cantik dengan gaun merah bernuansa keemasan yang dikenakannya hari ini. Bunga-bunga merah terlihat dari berbagai sudut. Aku pun menyentuh kemeja berwarna senada yang terbalut tuksedo.

“Apa kau tahu sesuatu, Nad?” Tanyaku.

“Apa?”

“Aku bahagia.”

Dia tersenyum dibalik bibirnya yang berlapis lipstick berwarna terang, namun tak memandangku.  

“Mungkin tak akan sebahagia ini andai yang telah kita lalui terlalu mudah.” Jawabnya.

“Dan andai kita tidak saling menguatkan.”

“Atau bila kita tak pernah merasa ingin menyerah.”

“Bisa ini disebut kemenangan?”

“Tidak. Selama masih ada hal lain yang akan kita mulai setelah hari ini.”

“Oh ya, aku lupa! Ini hanya sebuah titik awal.” Jawabku.

Sontak aku memeluk tubuh Nadia, walau tanpa aba-aba dari siapa pun, kecuali dari dalam diriku sendiri.

Me love you.”

“Aku tahu.”

“Selama ini aku merasa bosan karena hanya menemukan aku sebagai diriku saja, aku butuh untuk dimiliki.”

“Maka, jadilah milikku selamanya.” Jawab Nadia menutup romantika dalam dekapanku.

Sebenarnya terlalu sederhana bila dibandingkan dengan yang telah kami lalui. Selayaknya hanya sebagai perayaan, maka hari ini tidak akan berarti apa-apa bila telah berakhir. Hal yang lebih menyenangkan adalah peristiwa-peristiwa yang telah mengantar kami sampai pada hari ini. Keterpurukan dalam kisah lama, keberanian untuk memulai, jarak, keraguan, dan apa pun itu. Tiba-tiba Ryry memanggilku.

“Hei, ada yang ingin berbicara dengamu.” Katanya sambil menyerahkan sebuah ponsel.

Selamat berbahagia. Maaf kami tidak bisa datang. Echi pun sangat menyesal tak dapat datang ke hari penting adiknya sendiri. Kata Argi di seberang sana.

Karena kau terlalu sibuk, huh?

Ya, mungkin minggu depan kami akan ke Indonesia. Sampaikan salam kami untuk Nadia, dan Nisya tentu saja.

Baiklah. Apa kabar di sana?

Kau sudah melewatkan musim dingin. Its summer again here. Kapan kembali ke sini?

Segera

Aku menutup telepon dan membisiki Nadia.

“Kau berminat pada kisah Hunchback of Notre Dame dalam teater di Old Royal Naval College?”

“Dalam festival musim panas lagi? Ke London?” kata Nadia sumringah.

“Ya, musim di mana kita bertemu.” Jawabku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar